N-250
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
N-250
|
|||
|
|||
Tipe
|
Transpor Sipil
|
||
Produsen
|
IPTN/PT Dirgantara Indonesia
|
||
Perancang
|
|||
Terbang
perdana
|
|||
Diperkenalkan
|
1989
|
||
Status
|
prototipe
|
||
Jumlah
produksi
|
2 (PA-1 & PA-2)
|
||
Pesawat
N-250 adalah
pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN
(Sekarang PT Dirgantara
Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti
Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya
dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio,
yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. berbeda
dengan pesawat sebelumnya seperti CN-235 dimana kode CN
menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti
pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA
Spanyol dengan IPTN.
Pesawat ini
merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang
dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995).
Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian
Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan
produksinya setelah krisis
ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun
untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar
internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan
kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem
fly-by wire.
Pertimbangan
B.J. Habibie untuk memproduksi pesawat itu
(sekalipun sekarang dia bukan direktur IPTN) adalah diantaranya karena salah
satu pesawat saingannya Fokker F-50 sudah tidak
diproduksi lagi sejak keluaran perdananya 1985,
karena perusahaan industrinya, Fokker
Aviation di Belanda dinyatakan gulung
tikar pada tahun 1996.
Performa Pesawat
| Gambar tiga sisi N-250 |
Pesawat ini
menggunakan mesin
turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison.
Pesawat berbaling baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal
610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan
kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000
kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km. (Pada pesawat baru, kapasitas
mesin akan diturunkan yang akan menurunkan performa).
Berat dan Dimensi
- Rentang Sayap : 28 meter
- Panjang badan pesawat : 26,30 meter
- Tinggi : 8,37 meter
- Berat kosong : 13.665 kg
- Berat maksimum saat take-off (lepas landas) : 22.000 kg
(Meski mesin
N 250 diturunkan kemampuannya, dimensi tidak akan diubah)
Sejarah
Rencana
pengembangan N-250 pertama kali diungkap PT IPTN (sekarang PT Dirgantara
Indonesia, Indonesian Aerospace) pada Paris
Air Show 1989. Pembuatan prototipe pesawat ini dengan
teknologi fly by wire pertama di dunia dimulai pada tahun 1992.
N-250
rencananya akan dibuat empat pesawat prototipe (prototype aircraft - PA)
yaitu PA-1, PA-2, PA-3, dan PA-4. Akan tetapi hanya dibuat 2 pesawat prototip
saja menyusul diberhentikannya program pengembangan.
- PA-1 dengan sandi Gatotkaca, 50 penumpang, terbang perdana (first flight) selama 55 menit pada tanggal 10 Agustus 1995.
- PA-2 dengan sandi Krincing Wesi, N250-100, 68 penumpang terbang perdana (first flight) pada tanggal 19 Desember 1996.
Saingan
pesawat ini adalah ATR 42-500, Fokker F-50 dan Dash 8-300.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar